Rabu, 27 April 2016

paper kerahiman ilahi


YUBILEUM KERAHIMAN ILAHI
TAHUN Suci atau sering disebut juga dengan Tahun Yubileum menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam Gereja katolik. Tapi karena hanya dirayakan setiap 25 tahun sekali, umat seringkali menjadi tidak mengerti bahkan salah memahami Tahun Suci. Bahkan karena Yubileum Kerahiman tahun ini adalah sebuah Yubileum Luar Biasa, banyak umat semakin dibuat bingung. Paus Fransiskus secara resmi mengumumkan Yubileum Luar Biasa Kerahiman pada petang hari tanggal 11 April 2015 di Basilika Santo Petrus Roma dengan menerbitkan Bula "Misericordiae vultus". Di samping untuk menunjukkan durasi, tanggal pembukaan dan penutupan, serta metode-metode pengembangan, Bula Yubileum merupakan dokumen dasariah untuk memahami semangat maklumat, niat, dan buah-buah yang diharapkan oleh Paus. Yubileum dimulai pada tanggal 8 Desember tahun ini dan akan berakhir pada tanggal 20 November 2016.
Beberapa kutipan dari dokumen Misericordia Vultus:

1. Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Allah. Allah Bapa, yang kaya dengan rahmat (Ef 2:4), setelah mewahyukan nama-Nya kepada Musa sebagai “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6), tidak pernah berhenti memperlihatkan keilahian-Nya dengan berbagai cara. Setelah genap waktunya (Gal 4:4), Dia mengutus Putra-Nya untuk lahir dari Perawan Maria untuk mewahyukan kasih-Nya secara definitif. Barangsiapa telah melihat Yesus, ia telah melihat Bapa (Yoh 14:9), Yesus dari Nazaret menunjukkan kerahiman Allah dengan sabda, karya, dan pribadi-Nya.
2. Kita perlu selalu merenungkan rahasia kerahiman, sumber sukacita,  ketenteraman, dan kedamaian.  Kerahiman adalah kata yang mengungkapkan rahasia Tritunggal Mahakudus. Kerahiman adalah hukum utama yang tinggal di dalam hati setiap orang ketika dia melihat saudara yang dijumpainya dengan mata yang tulus. Kerahiman adalah jalan yang mempersatukan Allah dan manusia.
3. Yubileum Luarbiasa Kerahiman dimaklumatkan sebagai saat yang tepat bagi Gereja untuk memperkuat kesaksian umat beriman. Tahun Suci akan dibuka pada tanggal 8 Desember, Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda. Sejak dosa Adam dan Hawa, Allah tidak pernah bermaksud meninggalkan manusia dalam asuhan si Jahat. Untuk itulah Allah menjadikan Maria kudus dan tak bercacat (Ef 1:4) untuk menjadi Bunda Penebus. Kerahiman selalu melampaui segala dosa. Pada Hari Raya ini Pintu Suci dibuka. Barangsiapa yang melewati pintu ini dapat mengalami kasih Allah yang memberi penghiburan, pengampunan, dan pengharapan. Secara berurutan setiap minggu akan dibuka Pintu Suci dari basilika-basilika yang lain. Semua gereja partikular, dengan demikian, akan terlibat secara langsung untuk menghidupi Tahun Suci ini sebagai saat istimewa untuk rahmat dan pembaharuan spiritual.
4. Pemilihan tanggal 8 Desember penuh makna bagi sejarah Gereja. Pintu Suci dibuka bertepatan dengan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II, sejarah baru bagi Gereja. Mengenang kembali perkataan penuh makna St. Yohanes XXIII pada pembukaan konsili, “Kini mempelai Kristus memilih untuk menggunakan kerahiman daripada senjata dan kekerasan … Gereja Katolik, dengan Konsili Ekumenis ini mengangkat tinggi lentera kekatolikan, dan ingin menunjukkan diri sebagai bunda penuh kasih dari semua orang, sabar, lembut, penuh kerahiman dan kebaikan …” Demikian pula ucapan Beato Paulus VI dalam penutupan Konsili, “Kita ingin mencatat sebagai semangat konsili terutama kasih … Kisah tentang orang Samaria merupakan paradigma spiritualitas Konsili … Hal lain yang perlu kita ungkapkan: semua kekayaan doktrin diarahkan ke satu tujuan: melayani manusia, dalam keberadaannya, kelemahannya, dan kebutuhannya.” Dengan syukur atas segala yang telah diterima oleh Gereja dan dengan tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menanti kita, kita akan melewati Pintu Suci dengan penuh keyakinan bahwa kekuatan Tuhan yang bangkit menyertai kita dalam peziarahan kita.
5. Tahun Yubileum akan ditutup pada tanggal 20 November 2016, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Pada hari itu Pintu Suci akan ditutup dengan penuh syukur dan terima kasih kepada Tritunggal Mahakudus. Kita menyerahkan hidup Gereja, seluruh umat manusia, segenap alam semesta kepada Kristus Raja; dengan harapan bahwa tahun-tahun mendatang dipenuhi dengan kerahiman untuk menjumpai setiap orang sambil membawa kebaikan dan kelembutan Allah.
Hal yang menarik saat tahun yubileum salah satunya adalah adanya indulgensi penuh. Indulgensi adalah (1) penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk (2) dosa-dosa yang sudah diampuni. (3) Warga beriman Kristen (4) yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan (5) bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif” (KGK 1471)
Syarat mendapat indulgensi penuh :
a. Mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Sekali pengakuan dosa secara sakramental cukup untuk memperoleh beberapa kali indulgensi sebagian, tetapi Komuni dan doa untuk intensi Bapa Paus harus dilakukan untuk memperoleh setiap Indulgensi penuh.
b. Menerima Komuni/ Ekaristi
c. Berdoa bagi intensi Bapa Paus, dipenuhi dengan satu kali doa Bapa Kami, sekali Salam Maria, namun setiap orang bebas mengucapkan juga doa spontan tentangnya sesuai dengan kesalehan dan devosi/ungkapan kasihnya.
d. Semua keterikatan pada dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika keterikatan terhadap dosa ringan masih ada, atau ketiga kondisi lainnya tidak dipenuhi, maka indulgensi yang diperoleh adalah indulgensi sebagian.
Di dalam Handbook of Indulgences yang dikeluarkan oleh Tahta Suci tanggal 29 Juni, 1968, ditulis beberapa cara untuk memperoleh Indulgensi sebagian (partial Indulgence):
1. Jika seorang beriman dalam melaksanakan tugasnya dan memikul beban kehidupan, mengangkat pikirannya kepada Allah dengan penuh kepercayaan dan kerendahan hati, dan berdoa, meskipun hanya di dalam hati- permohonan-permohonan yang saleh.
Doa ini tidak dilepaskan/ berdiri sendiri, melainkan merupakan doa yang didaraskan di tengah-tengah pelaksanaan tugas sehari-hari, dan dapat berupa doa yang sangat singkat, seperti:
“Tuhanku, aku mengasihi Engkau”
“Semuanya hanya bagi-Mu, Tuhan”
“Datanglah Kerajaan-Mu”
“Hati Yesus yang MahaKudus, Aku percaya kepada-Mu”
2. Jika seorang beriman, dihidupi oleh semangat iman dan dengan hati yang berbelas kasih memberikan dirinya sendiri atau perbuatannya untuk melayani saudara-saudarinya yang sedang membutuhkan pertolongan.

3. Jika seorang beriman, yang dengan semangat pertobatan, dan atas kehendaknya sendiri, berpantang dari apa yang sesungguhnya boleh dilakukannya dan menyenangkan hatinya. Hal ini berkaitan dengan penyangkalan diri yang didasari oleh kasih dan kehendak agar menjadi semakin serupa dengan Kristus yang miskin dan menderita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar