YUBILEUM KERAHIMAN ILAHI
TAHUN Suci atau sering disebut juga dengan Tahun Yubileum menjadi salah
satu peristiwa paling penting dalam Gereja katolik. Tapi karena hanya dirayakan
setiap 25 tahun sekali, umat seringkali menjadi tidak mengerti bahkan salah
memahami Tahun Suci. Bahkan karena Yubileum Kerahiman tahun ini adalah sebuah
Yubileum Luar Biasa, banyak umat semakin dibuat bingung. Paus Fransiskus secara
resmi mengumumkan Yubileum Luar Biasa Kerahiman pada petang hari tanggal 11
April 2015 di Basilika Santo Petrus Roma dengan menerbitkan Bula
"Misericordiae vultus". Di samping untuk menunjukkan durasi, tanggal
pembukaan dan penutupan, serta metode-metode pengembangan, Bula Yubileum
merupakan dokumen dasariah untuk memahami semangat maklumat, niat, dan
buah-buah yang diharapkan oleh Paus. Yubileum dimulai pada tanggal 8 Desember
tahun ini dan akan berakhir pada tanggal 20 November 2016.
Beberapa kutipan dari dokumen Misericordia Vultus:
1. Yesus
Kristus adalah wajah kerahiman Allah. Allah Bapa, yang kaya dengan rahmat (Ef
2:4), setelah mewahyukan nama-Nya kepada Musa sebagai “Allah penyayang dan
pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6), tidak
pernah berhenti memperlihatkan keilahian-Nya dengan berbagai cara. Setelah
genap waktunya (Gal 4:4), Dia mengutus Putra-Nya untuk lahir dari Perawan Maria
untuk mewahyukan kasih-Nya secara definitif. Barangsiapa telah melihat Yesus,
ia telah melihat Bapa (Yoh 14:9), Yesus dari Nazaret menunjukkan kerahiman
Allah dengan sabda, karya, dan pribadi-Nya.
2. Kita perlu
selalu merenungkan rahasia kerahiman, sumber sukacita, ketenteraman, dan kedamaian. Kerahiman adalah kata yang mengungkapkan
rahasia Tritunggal Mahakudus. Kerahiman adalah hukum utama yang tinggal di
dalam hati setiap orang ketika dia melihat saudara yang dijumpainya dengan mata
yang tulus. Kerahiman adalah jalan yang mempersatukan Allah dan manusia.
3. Yubileum
Luarbiasa Kerahiman dimaklumatkan sebagai saat yang tepat bagi Gereja untuk
memperkuat kesaksian umat beriman. Tahun Suci akan dibuka pada tanggal 8
Desember, Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda. Sejak dosa Adam dan Hawa, Allah
tidak pernah bermaksud meninggalkan manusia dalam asuhan si Jahat. Untuk itulah
Allah menjadikan Maria kudus dan tak bercacat (Ef 1:4) untuk menjadi Bunda
Penebus. Kerahiman selalu melampaui segala dosa. Pada Hari Raya ini Pintu Suci
dibuka. Barangsiapa yang melewati pintu ini dapat mengalami kasih Allah yang
memberi penghiburan, pengampunan, dan pengharapan. Secara berurutan setiap
minggu akan dibuka Pintu Suci dari basilika-basilika yang lain. Semua gereja
partikular, dengan demikian, akan terlibat secara langsung untuk menghidupi
Tahun Suci ini sebagai saat istimewa untuk rahmat dan pembaharuan spiritual.
4. Pemilihan
tanggal 8 Desember penuh makna bagi sejarah Gereja. Pintu Suci dibuka
bertepatan dengan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II, sejarah
baru bagi Gereja. Mengenang kembali perkataan penuh makna St. Yohanes XXIII
pada pembukaan konsili, “Kini mempelai Kristus memilih untuk menggunakan
kerahiman daripada senjata dan kekerasan … Gereja Katolik, dengan Konsili
Ekumenis ini mengangkat tinggi lentera kekatolikan, dan ingin menunjukkan diri
sebagai bunda penuh kasih dari semua orang, sabar, lembut, penuh kerahiman dan
kebaikan …” Demikian pula ucapan Beato Paulus VI dalam penutupan Konsili, “Kita
ingin mencatat sebagai semangat konsili terutama kasih … Kisah tentang orang
Samaria merupakan paradigma spiritualitas Konsili … Hal lain yang perlu kita
ungkapkan: semua kekayaan doktrin diarahkan ke satu tujuan: melayani manusia,
dalam keberadaannya, kelemahannya, dan kebutuhannya.” Dengan syukur atas segala
yang telah diterima oleh Gereja dan dengan tanggung jawab untuk menyelesaikan
tugas-tugas yang menanti kita, kita akan melewati Pintu Suci dengan penuh
keyakinan bahwa kekuatan Tuhan yang bangkit menyertai kita dalam peziarahan
kita.
5. Tahun
Yubileum akan ditutup pada tanggal 20 November 2016, Hari Raya Kristus Raja
Semesta Alam. Pada hari itu Pintu Suci akan ditutup dengan penuh syukur dan
terima kasih kepada Tritunggal Mahakudus. Kita menyerahkan hidup Gereja,
seluruh umat manusia, segenap alam semesta kepada Kristus Raja; dengan harapan
bahwa tahun-tahun mendatang dipenuhi dengan kerahiman untuk menjumpai setiap
orang sambil membawa kebaikan dan kelembutan Allah.
Hal yang menarik saat tahun yubileum salah satunya adalah adanya
indulgensi penuh. Indulgensi adalah (1) penghapusan siksa-siksa temporal di
depan Allah untuk (2) dosa-dosa yang sudah diampuni. (3) Warga beriman Kristen
(4) yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan
dengan jelas, memperolehnya dengan (5) bantuan Gereja, yang sebagai pelayan
penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan
para kudus secara otoritatif” (KGK 1471)
Syarat
mendapat indulgensi penuh :
a. Mengaku dosa dalam Sakramen
Pengakuan Dosa. Sekali pengakuan dosa secara sakramental cukup untuk memperoleh
beberapa kali indulgensi sebagian, tetapi Komuni dan doa untuk intensi Bapa
Paus harus dilakukan untuk memperoleh setiap Indulgensi penuh.
b. Menerima Komuni/ Ekaristi
c. Berdoa bagi intensi Bapa Paus,
dipenuhi dengan satu kali doa Bapa Kami, sekali Salam Maria, namun setiap orang
bebas mengucapkan juga doa spontan tentangnya sesuai dengan kesalehan dan
devosi/ungkapan kasihnya.
d. Semua keterikatan pada dosa,
bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika keterikatan terhadap dosa ringan masih ada,
atau ketiga kondisi lainnya tidak dipenuhi, maka indulgensi yang diperoleh
adalah indulgensi sebagian.
Di dalam
Handbook of Indulgences yang dikeluarkan oleh Tahta Suci tanggal 29 Juni, 1968,
ditulis beberapa cara untuk memperoleh Indulgensi sebagian (partial
Indulgence):
1. Jika seorang beriman dalam
melaksanakan tugasnya dan memikul beban kehidupan, mengangkat pikirannya kepada
Allah dengan penuh kepercayaan dan kerendahan hati, dan berdoa, meskipun hanya
di dalam hati- permohonan-permohonan yang saleh.
Doa ini tidak dilepaskan/ berdiri
sendiri, melainkan merupakan doa yang didaraskan di tengah-tengah pelaksanaan
tugas sehari-hari, dan dapat berupa doa yang sangat singkat, seperti:
“Tuhanku, aku mengasihi Engkau”
“Semuanya hanya bagi-Mu, Tuhan”
“Datanglah Kerajaan-Mu”
“Hati Yesus yang MahaKudus, Aku percaya kepada-Mu”
“Semuanya hanya bagi-Mu, Tuhan”
“Datanglah Kerajaan-Mu”
“Hati Yesus yang MahaKudus, Aku percaya kepada-Mu”
2. Jika seorang beriman, dihidupi
oleh semangat iman dan dengan hati yang berbelas kasih memberikan dirinya
sendiri atau perbuatannya untuk melayani saudara-saudarinya yang sedang
membutuhkan pertolongan.
3. Jika seorang beriman, yang
dengan semangat pertobatan, dan atas kehendaknya sendiri, berpantang dari apa
yang sesungguhnya boleh dilakukannya dan menyenangkan hatinya. Hal ini
berkaitan dengan penyangkalan diri yang didasari oleh kasih dan kehendak agar
menjadi semakin serupa dengan Kristus yang miskin dan menderita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar